RS Efarina Etaham Pangkalan Kerinci, Pelalawan: Survei Geolistrik

Laporan Survei · Pelalawan · 16 Sep 2026

RS Efarina Etaham di Pangkalan Kerinci Kota, Pelalawan, membutuhkan sumber air tanah yang bisa diandalkan untuk mendukung operasional rumah sakit. Kebutuhan air di fasilitas kesehatan tidak bisa main tebak, apalagi jika sumber alternatifnya akan dijadikan cadangan saat pasokan utama bermasalah. Atas pertimbangan itu, pihak rumah sakit menghubungi kami untuk melakukan deteksi air tanah sebelum pengeboran dijadwalkan. Tim turun ke lapangan pada 29 April 2024, di koordinat 0.425528, 101.853611, elevasi 21 mdpl.

Pangkalan Kerinci sebagai pusat Pelalawan memang sudah cukup berkembang, tapi soal air tanah, kondisi geologinya tetap perlu dikaji per lokasi karena penyebaran akuifer tidak selalu merata meski dalam satu kelurahan yang sama.

Kondisi Geologi dan Potensi Akuifer

Lapisan bawah tanah di lokasi RS Efarina Etaham tersusun dari endapan aluvial Kuarter, terdiri dari campuran kerakal, kerikil, pasir, lempung, dan gambut. Komposisi seperti ini sangat lazim di dataran Pelalawan yang banyak dipengaruhi oleh pengendapan material sungai bercampur material organik gambut dalam jangka waktu panjang.

Akuifer di lokasi ini tergolong produktif sedang dengan penyebaran luas. Kelulusannya tinggi dan keterusan lapisannya sedang, cukup mendukung aliran air tanah yang memadai di zona yang tepat. Perkiraan debit yang bisa diperoleh berkisar antara 1 hingga 5 liter per detik. Untuk kebutuhan cadangan atau pelengkap pasokan air sebuah rumah sakit, angka itu cukup berarti jika dikelola dengan sistem yang baik.

Gambut dalam susunan litologi selalu menjadi perhatian tersendiri dalam proses interpretasi data. Nilai resistivitas gambut bisa menyerupai zona jenuh air jika tidak dibaca dengan teliti, dan ini adalah salah satu hal yang paling sering menjadi sumber kesalahan interpretasi di wilayah dengan dominasi lahan gambut seperti banyak bagian Pelalawan.

Proses Pengukuran di Lapangan

Tim menggunakan ADMT 300HT2 untuk melakukan pengukuran di lokasi ini. Alat ini menggabungkan elektroda resistivitas dengan sensor elektromagnetik, dengan kemampuan deteksi hingga 100 sampai 300 meter ke bawah permukaan. Data pengukuran bisa dipantau langsung melalui koneksi wireless ke tablet, dan sistem menghasilkan visualisasi penampang tanah 2D serta 3D secara otomatis. Produsen mengklaim akurasi deteksinya mencapai 95%, meski kondisi geologi aktual di lapangan selalu menjadi faktor penentu yang tidak bisa diabaikan.

Pengukuran di area RS Efarina Etaham berlangsung lancar. Lahan di sekitar kompleks rumah sakit cukup memadai untuk pemasangan konfigurasi elektroda. Data yang terekam menunjukkan variasi lapisan yang bisa dibaca dengan baik, dan tim berhasil mengidentifikasi zona yang paling prospektif sebagai titik air tanah berdasarkan pola resistivitas yang masuk.

Ilustrasi RS Efarina Etaham Pangkalan Kerinci, Pelalawan: Survei Geolistrik

Rekomendasi Titik Bor dan Biaya Survei

Hasil analisis data dijadikan dasar penentuan titik pengeboran yang direkomendasikan, pada zona dengan karakteristik resistivitas paling sesuai untuk mendapatkan debit yang memadai dari akuifer aluvial setempat. Laporan teknis lengkap diserahkan kepada pihak manajemen rumah sakit sebagai panduan sebelum proses pengeboran dilaksanakan.

Untuk informasi, biaya survei geolistrik air tanah di Pelalawan yang kami kenakan berkisar Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi ke lokasi. Tarif itu sudah mencakup seluruh proses, dari pengukuran lapangan, pengolahan data, hingga penyerahan laporan rekomendasi titik bor secara lengkap.

Rumah sakit, klinik, atau fasilitas layanan publik lain di Pelalawan yang ingin memiliki sumber air mandiri sangat disarankan untuk melakukan deteksi sumur bor terlebih dahulu sebelum mengebor. Hubungi kami untuk konsultasi dan penjadwalan survei.

← Kembali ke daftar artikel